Pertanyaan Seputar Hukum Qurban dalam Islam untuk Kondisi Tertentu

hukum kurban

Ibadah qurban sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Ibadah ini sendiri bermula dari Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya yaitu Nabi Ismail yang kemudian digantikan oleh Allah SWT dengan domba. Dengan sejarah panjangnya, ibadah ini pun kemudian dilanjutkan sampai ke Nabi Muhammad SAW hingga ke umatnya saat ini. Ibadah qurban ini memiliki banyak sekali keutamaan sehingga tak heran banyak yang bersemangat untuk berqurban ketika Idul Adha.

Namun masih banyak simpang siur yang ada di masyarakat terkait ibadah kurban sehingga memunculkan banyak pertanyaan. Di antara sekian banyak pertanyaan, ada pertanyaan terkait hukum qurban dalam Islam ketika di kondisi tertentu. Berikut ini beberapa penjelasannya:

1. Bolehkah berqurban dengan atas nama seorang yang telah meninggal?
Jawaban: Qurban untuk seseorang, misalnya anggota keluarga yang sudah meninggal ini bisa disejajarkan dengan sedekah dimana sudah ada dalil yang menyatakan bahwa sedekah untuk orang meninggal akan sampai kepadanya. Untuk itu, jawabannya adalah diperbolehkan, terlebih jika seorang yang telah meninggal tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan.

2. Bolehkah berqurban atas nama seorang yang belum akil baligh?
Jawaban: Urban merupakan ibadah yang ditujukan untuk penganut muslim yang berakal, baligh serta mampu. Dalam hal ini, anak kecil yang belum baligh maka tidak dikenakan beban untuk berkurban namun jika orang tua mengatasnamakan dirinya, hal ini tetap sah. Dengan cara ini juga orang tua bisa mengajarkan anaknya untuk bisa membiasakan berqurban hingga dewasa nanti.

3. Bolehkah berqurban atas nama seorang yang masih hidup, namun orang tersebut tidak mengetahuinya?
Jawaban: Beberapa hadits telah menunjukkan jika Rasulullah pernah berkurban atas nama dirinya, keluarga dan seluruh umatnya. Tidak ada rincian umat dalam hadits tersebut sehingga ditujukannya adalah untuk umatnya secara umum. Untuk itu, berarti berqurban atas nama orang lain meski Ia tidak mengetahuinya diperbolehkan. Namun ada juga cara lain yaitu dengan menyerahkan sejumlah uang untuk membeli hewan qurban dan kemudian memintanya untuk dibelikan hewan qurban untuk dirinya juga dibolehkan.

4. Bagaimana hukum qurban setiap tahun sekali atas nama keluarga secara bergiliran, padahal kondisi keluarga tersebut mampu?
Jawaban: Berdasarkan yang telah disebutkan bahwa hukum qurban adalah sunnah muakad dimana tidak ada dosa jika meninggalkannya. Oleh karena itu, kondisi demikian diperbolehkan, namun alangkah baiknya jika memang memiliki rezeki yang lapang maka berqurban untuk seluruh anggota keluarga seluruhnya setiap tahun.

Itulah beberapa pertanyaan terkait hukum qurban dalam kondisi tertentu. Setelah mengetahui informasi tersebut, diharapkan Anda sudah tahu hukum jelas tentang berqurban sehingga ibadah pun semakin mantap. Pastikan pilih hewan terbaik yang gemuk dan sehat untuk ibadah qurban Anda.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*